Tampilkan postingan dengan label BIOPALASTIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIOPALASTIK. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2009

Bahan TA Bioplastik

Oleh: Ir Ophirtus Sumule dan Drs Untung Suwahyono
Staf Peneliti pada Direktorat Pengkajian Ilmu Dasar dan Terapan,
BPP Teknologi

Plastik adalah suatu produk kimia yang telah dikenal dan digunakan
secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat, baik yang bermukim di pedesaan
apalagi yang tinggal di kota-kota besar. Akhir-akhir ini muncul suatu
kekhawatiran karena ditakutkan bahwa kehadiran plastik akan dapat mengancam
kelestarian dan keasrian planet bumi kita. Pertanyaan yang muncul adalah
kenapa tumpukan plastik tersebut ditakuti oleh masyarakat?

Jawabannya karena selain tumpukan-tumpukan tersebut mengganggu
pemandangan yang merusak keindahan lingkungan, terlebih lagi karena plastik
dapat dihancurkan dengan cara dibakar, namun selain abunya tidak dapat
dicerna oleh tanah, asapnya ternyata dapat membangkitkan gas beracun yang
berbahaya bagi makhuk hidup.

Dampak negatif itu bukannya tidak terpikirkan oleh para ahli penemu
plastik. Untuk mengatasi limbah tersebut, hampir bersamaan dengan
ditemukannya teknolgi pembuatan plastik, mereka telah mencoba mengembangkan
berbagai jenis teknologi untuk pengolahan untuk mendaur ulang sampah
plastik, namun sampai kini, teknologi tersebut ternyata belum mampu
mengurangi tumpukan sampah plastik di alam.

Sebenarnya, teknologi daur ulang plastik yang kini banyak dipasarkan,
pada dasarnya hanyalah berfungssi untuk mengurangi pemakaian bahan baku
(virgine material). Artinya, sampah-sampah yang bertumpuk atau yang akan
dibuang ke alam, dikumpulkan, kemudian diolah untuk memproduksi jenis-jenis
barang plastik yang baru. Hal itu berarti pula bahwa penggunaan teknologi
tersebut hanyalah suatu upaya untuk memperlambat makin membesarnya
tumpukan plastik di alam.

Walaupun mesin-mesin pengolah sampah plastik sudah banyak dioperasikan
di berbagai negara, namun karena laju penggunaan plastik semakin meningkat
dari hari ke hari mengakibatkan tumpukan plastik bekas semakin banyak
(terutama di negara-negara maju). Hal ini mulai mengkhawatirkan dunia
internasional karena sudah mulai mengimbas ke negara-negara berkembang
seperti Indonesia.

Tentu masih segar dalam ingatan kita bahwa beberapa waktu yang lalu,
organisasi pencinta lingkungan hidup tingkat nasional maupun internasional
telah meributkan adanya ekspor sampah plastik dari suatu negara Eropa ke
Indonesia.

Sebenarnya, yang perlu adalah bagaimana lebih menggiatkan pendaur
ulangan sampah plastik yang ada di sekitar kita dan bagaimana menciptakan
bahan baku plastik yang bila dibuang, akan terurai secara sempurna di alam
sehingga tidak menyebabkan kerusakan lingkungan?

Hal ini sangat penting karena bila tidak cepat atau lambat akan terjadi
`bom sampah plastik' sehingga selain menimbulkan problem lingkungan, juga
akan menyita lahan yang tidak seidkit untuk tempat pembuangan plastik bekas
karena yang jelas, sampah tersebut tidak mungkin dihancurkan sempurna
apalagi dibuang ke negara lain.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa dengan diketemukannya teknologi produksi
plastik, telah membawa suatu dampak baru pada pola kehidupan masyarakat.
Sebagai contoh, besi yang selama ini berperan penting untuk berbagai
kebutuhan, kini dapat diganti oleh plastik karena ternayat kini kita dapat
memproduksi plastik yang lebih unggul dari besi karena sifatnya yan lebih
keras, tidak berkarat dan tahan cuaca.

Denga plastik pula kita misalnya bisa menggunakan kain nilon yang lebih
indah dari sutera alam. Bahkan kin, tidak jarang kita jumpai para penjual
ketoprak tidak lagi menggunakan daun kelapa untuk membungkus ketupatnya
karena sudah diganti dengan palstik yang lebih praktis.

Pokoknya, penggunaan plastik sudah merasuk jauh dalam kehidupan
masyarakat, mulai dari sifatya yang tradisionil sampai ke yang canggih.
Akibatnya, dengan ruang lingkup penggunaan plastik yang seakan tidak
terbatas, pertumbuhan penggunaan palstik berlangsung dengan sangat pesat.

Untuk kita di Indonesia, selama Pelita V yang lalu, diperkirakan untuk
kebutuhan plastik jenis kantong saja, kita harus menyediakan tidak kurang
dari 22 ribu ton. Tentu jumlah tersebut akan berlipat kali bila kebutuhan
lainnya diperhitungkan seperti misalnya plastik utnuk keperluan alat rumah
tangga, bahan bangunan dan lain-lain.

Pada saat sekarang ini, secara global telah tercipta suatu komitmen
masyarakat internasional untuk menciptakan planet bumi ini sebagai planet
yang bebas sampah termasuk sampah plastik. Oleh karena plastik merupakan
bahagian dari kehidupan masyarakat kita, maka strategi fragmatis untuk
mengatasi hal tersebut adalah mengembangkan bahan-bahan plastik khusus
(tidak dapat terurai) untuk bahan konstruksi. Sedangkan plastik-plastik
yang bersifat serba guna dan digunakan secara luas oleh masyarakat,
bahan-bahannya diganti dengan plastik yang mudah dihancurkan oleh alam
(decomposible plastics).

Berkat ketekunan mereka (para ahli), bahan baku plastik kini dapat
diproduksi dengan bantuan mikroorganisme yaitu bakteri Alcaligenes
euthrophus. Metode tersebut ditemukan oleh lembaga penelitian Pasteur di
Prancis pada tahun 1927.

Mereka telah membuktikan bahwa bakteri tersebut dapat menghasilkan
polimer bahan baku utama untuk pembuatan plastik yang mudah terurai. Sayang
sekali, teknologi ini belum dapat dimasyarakatkan secara laus karena
dianggap biaya produksinya masih tinggi.

Berdasarkan proses pembuatannya, plastik yang mudah terurai dibedakan
atas 3 tipe yaitu:
1. Plastik yang dihasilkan dari suatu bahan akibat kerja dari suatu jenis
mikroorganisme (prekusor)
2. Plastik yang dibuat berdasarkan hasil rekayasa kimia dari bahan polimer
alami seperti serat selulosa dan bahan berpati (amylase) dan
3. Plastik dengan 0bahan baku polimer sinetik sebagai hasil dan sintesa
minyak bumi seperti poliester copolimer.

Bahan plastik decomposible (mudah terurai) berupa senyawa poliester
produk kerja mikroorganisme (bakteri), dalam sistem tata nama ilmu kimia
disebut : Poli-3-Hidroksibutirat (poli-3HB) atau Hidrooksivalate yang
terkandung dalam suatu bahan melalui cara fermentasi.

Walaupun sudah terbukti bahwa senyawa tersebut adalah bahan plastik yang
aman untuk lingkungan, namun pada awal ditemukannya, banyak orang yang
masih meragukan prospektifnya. Namun setelah 23 tahun, yaitu pada akhir
tahun 1950, prospek produk tersebut mulai menampakkan tanda-tanda cerah
yaitu saat para ahli berhasil meningkatkan kandungan Poli-3HV didalam sel
bakteri sampai 60%.

Keragaman plastik yang dihasilkan tergantung dari banyaknya jumlah
molekul 3HB atau 3HV dalam suatu rantai polimer. hal ini karena tingkat
kandungan 3HB/3HV akan menentukan tingkat elastisitas dari bahan plastik.

Serangkaian uji coba telah dilakukan dan diperoleh, bahwa pada produk
dengan kandungan 12% HB, memiliki keunggulan yang sama dengan plastik
konvensional plastik yang diperoleh dari bahan baku minyak bumi. Sifat
unggul tersebut antara lain: keras kuat dan titik leburnya 179 derajat
celcius. Dengan demikian maka untuk memproduksi suatu jenis plastik dengan
karakter tertentu, tinggal mengatur kandungan molekul 3HB/3HV-nya dalam
bahan bakunya.

Jenis plastik terurai (biokomposible) sebenarnya sudah diproduksi dan
dipasarkan oleh suatu perusahaan resin dari Inggris sejak tahun 1990,
namun lingkup pemasarannya masih sangat terbatas karena biaya produksinya
masih mahal yaitu untuk kapasitas 1000 ton/tahun harga produksinya
diperkirakan sebesar Rp 20.000/kg, tiga sampai lima kali lebih mahal bila
dibandingkan dengan harga bahan baku konvensional.

Untuk mengurangi biaya produk yang masih tinggi tersebut, para ahli
terus ebrupaya mencari terobosan yang baru. Salah satu diantaranya adalah Y
Dohi, seorang peneliti pada Tokyo Institute of Technology-Jepang. Beliau,
berkat ketekunannya, telah berhasil mengembangkan struktur baru bentuk
polimer P(3HB-co-4HB), dimana kandungan molekul 4HB mencapai 50% yang bila
digunakan sebagai bahan baku plastik akan dapat menghasilkan palstik yang
lebih elastis.

Struktur baru tersebut memberikan harapan besar karena bahan tersebut di
kemudian hari dapat digunakan untuk menggantikan bahan-bahan plastik yang
sifatnya serbaguna (plastik elastis) yang selama ini membawa banyak problem
pada lingkungan. Dengan demikian maka bahan baku hasil penemuan tersebut
diramalkan pemanfaatannya semakin beragam yang berarti pula tingkat
kebutuhannya kaan menjadi lebih besar. Produk baru tersebut akan laku di
pasaran bila harga jualnya bersaing dengan bahan baku asal minyak bumi.

Melihat prospektif yang dimiliki oleh bahan baku plastik produk
mikroorganisme ini, terlebih lagi jaminan keamanan lingkungan yang
ditawarkannya, kiranya pemakaiannya sudah perlu mulai dipertimbangkan oleh
industriwan kita. Hal itu bisa lebih dipacu bila seandainya negara-negara
pengguna plastik sepakat untuk memberikan subsidi sebagai insentif biaya
lingkungan.

http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1994/10/31/0012.html

Kamis, 08 Januari 2009

Bioplastik

Rekayasa Bioplastik Berbahan Dasar Limbah Jagung dengan Plasticizer Asam Lemak Inti Sawit dan Aplikasinya Sebagai Pengemas Biodegradable untuk Bahan Pangan dan Farmasi
Nama Peneliti
Anggota Peneliti
:
Instansi/Jurusan : Jur. Pend. IPA
Jenis Penelitian : APHB LANJUTAN
Lokasi
:
Bidang Ilmu :
Tahun : 2006


Rekayasa Bioplastik Berbahan Dasar Limbah Jagung dengan Plasticizer Asam Lemak Inti Sawit dan Aplikasinya Sebagai Pengemas Biodegradable untuk Bahan Pangan dan Farmasi. Kata kunci :Bioplastik, limbah jagung, asam lemak inti sawit, bahan pengemas Masykuri, M.; Radiman, Cynthia L.; Arcana, I Made*) Fakultas KIP UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing, 2007 Telah dilakukan rekayasa pembuatan bioplastik dengan bahan dasar limbah jagung dengan plasticizer asam lemak inti sawit. Plasticizer asam lemak inti sawit dipilih untuk menggantikan plasticizer komersial, yakni dioctylphtalate (DOP), trioctylphtalate (TOP), dan dioctylsebasate (DOS) yang bersifat toksik. Keuntungan plasticizer dari minyak nabati sebagai pengganti plasticizer sintetis adalah selain dapat diperbaharui, juga tidak bersifat racun dan lebih bersahabat dengan lingkungan. Penelitian ini mengkaji sintesis bioplastik zein dengan variasi 3 jenis plasticizer, yaitu: gliserol, asam oleat dan tanpa plasticizer sebagai pembanding. Variasi konsentrasi plasticizer/zein (v/w) yang diteliti terdiri dari 0,1/1; 0,2/1; 0,4/1; 0,8/1 dan 1/1.Karakterisasi yang dilakukan meliputi sifat termal, struktur dan morfologi lintang dan kristalinitas dari produk. Prosedur pengujian yang digunakan adalah berturut-turut ASTM D638-99, DSC, XRD, FTIR, dan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin bertambahnya konsentrasi plasticizer, semakin lentur bioplastik yang dihasilkan. Bioplastik zein memiliki suhu transisi gelas, Tg, antara 110 - 165oC, pada pemanasan di atas suhu tersebut terjadi perubahan dari keadaan glassy ke rubbery. Ditinjau dari aspek morfologi lintang, struktur bioplastik dengan plasticizer asam oleat lebih baik daripada bioplastik dengan plasticizer gliserol atau tanpa plasticizer, karena memiliki struktur matrik polimer yang lebih rapat. Bioplastik dengan plasticizer asam oleat memiliki fasa kristalin yang paling besar dibanding kedua jenis bioplastik lainnya, fasa kristalin bioplastik dengan plasticizer gliserol relatif sama dengan bioplastik tanpa plasticizer. Pada aspek karakter mekanik, meningkatnya kadar plasticizer mampu meningkatkan kuat tarik. Kuat tarik dan perpanjangan putus menunjukkan penurunan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan. Bioplastik dengan plasticizer asam oleat memiliki kuat tarik yang lebih tinggi dibanding bioplastik dengan plasticizer gliserol atau bioplastik tanpa plasticizer. Kuat tarik bioplastik dengan plasticizer asam oleat, gliserol dan tanpa plasticizer pada awal perlakuan berturut-turut adalah 7,8 MPa, 7,2 MPa dan 6,9 MPa.

Bioplasitik edisi berikutnya

Bioplastik –Potensi dan Tinjauan

Oleh Grup Berita Duisburg (Asal dalam bahasa Jerman)

Biofan-Film yang terbuat dari asam polilaktat (polylacticacid /PLA) yang dapat membuat produk segar tampak semakin segar. (Foto: Treofan) Sebuah mangkuk buah-buahan yang terbuat dari biopolimer PLA produksi NatureWorks®. Polimer ini berasal dari berbagai sumber seperti tepung jagung atau gula. (Foto: NatureWorks LLC)

Bagaimana nasib sebuah botol soda plastik yang dibuang dan tidak didaur ulang? Ia diremukkan dan dicabik-cabik sampai ia mungkin berhasil menuju lautan. Setelah hancur menjadi partikel-partikel kecil, ia lalu berakhir dalam tubuh makhluk hidup, dan ini merupakan hal yang berbahaya bagi lingkungan kita. Ada yang tidak benar dalam hal ini. Hanswerner Mackwitz, direktur Institut Riset Alchemia-Nova untuk Fito Kimia Inovatif di Vienna, Austria, menguraikannya seperti ini: “Bila saya membuat sebuah produk plastik yang memiliki waktu paruh 450 tahun, tetapi menggunakannya hanya untuk beberapa minggu atau hari saja, maka ini merupakan suatu masalah.”1

Sebuah kantong belanja yang terbuat dari tepung tanaman. Kantong jenis ini digunakan di banyak pasar swalayan di seluruh Eropa. Kantong ini higienis, tidak berbau, praktis, dan dapat terurai seperti kompos. (Foto: BASF)

Teknologi baru dan produk jadi sekarang dapat mengatasi dilema ini dengan bioplastik. Bahan mentah untuk bioplastik adalah tepung dan minyak yang bersumber dari tanaman seperti jagung dan gula bit. Saat ini, kami mampu membuat rantai molekul berbahan dasar tanaman yang sama dengan rantai molekul bahan sepadan yang berasal dari minyak bumi. Di bawah kondisi tertentu, kebanyakan bahan baku bioplastik dapat membusuk dalam waktu 8 sampai 12 minggu.2

Kenyataan bahwa kita dengan cepat mendekati puncak minyak dunia 3, (titik di mana planet mencapai produksi minyak maksimum dan setelah itu tingkat produksi minyak di Bumi akan menurun sampai titik habis) dan dengan demikian maka minyak bumi yang mahal sebagai bahan dasar plastik dapat digantikan posisinya dengan generasi plastik yang baru ini. Plastik PLA (polylactic acid) dapat menggantikan keberhasilan plastik PET (polyethylenterephthalat), walaupun saat ini harganya 20% lebih mahal.

Pasar untuk plastik tumbuh 5% per tahun. Setiap tahun, lebih dari 200 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia. Di Jerman, 14 juta ton kemasan dari berbagai macam jenis diproduksi setiap tahun; dan plastik menyumbang 40% dari 1,8 juta ton bahan yang berfungsi sebagai kantong atau wadah yang dapat dibuang. Potensi pasar untuk bioplastik di Eropa mencapai 6 juta ton untuk jenis kemasan yang dapat dibuang 4, tetapi pangsa pasar untuk seluruh konsumsi plastik masih kurang dari 1%. European Bioplastics yang mewakili industri bioplastik di Eropa menyatakan bahwa pasar telah meledak di tahun 2006. Seiring dengan diperkenalkannya biokemasan ke seluruh mata rantai pasar swalayan di seluruh Eropa, maka pabrik-pabrik memperkirakan pertumbuhan penggunaan bioplastik akan mencapai 100% di tahun 2007 bila dibandingkan dengan tahun 2006.5

Kemasan bioplastik sudah tersedia di pasar-pasar swalayan di Inggris, Belanda, Italia, dan Austria. Plastik seperti ini menyodorkan tingkat permeabilitas penguapan oksigen dan air yang lebih tinggi daripada plastik tradisional sehingga dapat menjaga kesegaran buah dan sayuran tiga hari lebih lama. Inggris memainkan peranan utama dalam menemukan penerapan praktis untuk bioplastik. Di negara tersebut, selada dan sayuran organik telah dijual dalam wadah plastik yang dibuat dari bahan yang dapat didaur ulang setelah adanya skandal BSE. Semboyannya adalah “Bahan organik dikemas dengan kemasan organik.”

Proyek di Austria Bagian Atas yang dikenal dengan Loop Linz telah beroperasi sejak Tahun Emas 2 (2005). Tujuannya adalah untuk menyediakan kemasan yang dapat bertahan lama kepada pasar dan proyek ini didukung oleh pemerintah daerah serta organisasi lainnya. Loop Linz diprakarsai oleh Institut Riset untuk Inovasi Fitokimia yang disebutkan di atas dan telah menunjukkan bahwa teknologi ini sangat praktis digunakan. Berbagai macam barang di pasar swalayan dijual dalam kemasan bioplastik baru yang terbuat dari tepung tanaman. Produksi jenis kemasan baru ini mereduksi gas buangan CO2 sebesar 50%.6

Perusahaan Pro-tech 7 telah meluncurkan peralatan makan yang mudah terurai secara alami yang terbuat dari bahan-bahan yang dapat diperbarui.8 Para tukang kebun juga dapat membeli kain penutup, yang 100% dapat terurai secara alami, yang berfungsi sebagai jerami dan tersedia baik di toko-toko khusus atau online.9

Baki yang dapat diubah menjadi kompos yang dibuat dari AgroResin® produksi perusahaan Grenidea, yang merupakan serat alam, dan terbuat dari bahan alami seperti serat minyak kelapa (Foto: Grenidea) Pembungkus Walkman dari biopolimer diluncurkan oleh Mitsubishi dan Sony di Jepang. Bahan baru ini juga sedang diselidiki oleh Nokia dan Motorola. (Foto: Kaeb)
Sebuah mantel musim dingin yang 100% terbuat dari jagung. Versace menggunakan serat Ingeo® yang diambil dari PLA NatureWorks. (Foto: GB Studio) Pita perekat yang dapat terurai secara alami. (Foto: Innovia films)

Untuk memperoleh gambaran tentang perkembangannya di masa depan, kita dapat meninjau ke Hanswerner Mackwitz dari Institut Riset untuk Inovasi Fitokimia di Vienna: “Kami berharap agar sistem tanam polikultur berhasil. Dengan mengelola tanaman, tanah, serta organisme yang menguntungkan, maka panennya diharapkan akan semakin melimpah.” Sebagai contoh, di Austria, kami punya banyak biji buah-buahan, tetapi yang digunakan hanya daging buahnya saja, sedangkan bijinya tidak. Hal itu akan berubah. Sebagai contoh, lapisan luar biji yang keras dapat diubah menjadi ampelas yang dapat digunakan untuk memoles logam. Bagian dalam biji yang lunak dapat diubah menjadi minyak berkualitas tinggi atau kosmetik. Ini merupakan “harta karun” yang sampai sekarang dibuang begitu saja. Jadi, kita harus meneliti suatu tanaman sebagai suatu kesatuan. Bagaimana kita bisa memperoleh kegunaan maksimal dari tanaman? Sebagai contoh, sampai sekarang kita hanya menggunakan biji tanaman bunga matahari, atau kayu dan buah dari pohon buah. Tetapi, kandungan apa yang ada dalam kumpulan bunga, buah, biji, akar, batang, dan daunnya? Pengetahuan mengenai biologi tanaman akan mendorong penemuan material yang baru. Tujuannya adalah untuk menghasilkan solusi di daerah tertentu serta memberi pengaruh yang berkelanjutan.”4

Kita berada di awal Zaman Keemasan dan sekaranglah waktunya untuk menyelaraskan diri dengan Bunda Alam, khususnya ditinjau dari sudut sumber daya kita. Teknologi sudah ada dan sedang menanti untuk digunakan oleh manusia secara bijaksana dan bertanggung jawab. Kita memiliki kewajiban terhadap planet ini, dan terhadap masa depan anak-anak kita.

Referensi:

1 http://www.faktor-x.info/cms.php?id=1129

2 http://de.wikipedia.org/wiki/Biokunststoff

3 (titik di mana planet mencapai produksi minyak maksimum dan setelah itu tingkat produksi minyak di Bumi akan menurun sampai titik habis) Catatan Penerjemah http://www.dematerialisierung.de/cms.php?id=1106

4 http://www.faktor-x.info/cms.php?id=1123

5 http://www.european-bioplastics.org/media/files/docs/en-pr/061121_PR_Bioplastics_Boom.pdf

6 http://www.loop-linz.at

7 http://www.pro-tech.info/english/ehome.htm

8 http://www.pro-tech.info/neu/aktuell/index.php?itemid=13

9 http://www.pro-tech.info/neu/aktuell/index.php?itemid=8

Bioplastik –


Potensi
dan Tinjauan

Oleh Grup Berita Duisburg (Asal dalam bahasa Jerman)

Biofan-Film yang terbuat dari asam polilaktat (polylacticacid /PLA) yang dapat membuat produk segar tampak semakin segar. (Foto: Treofan) Sebuah mangkuk buah-buahan yang terbuat dari biopolimer PLA produksi NatureWorks®. Polimer ini berasal dari berbagai sumber seperti tepung jagung atau gula. (Foto: NatureWorks LLC)

Bagaimana nasib sebuah botol soda plastik yang dibuang dan tidak didaur ulang? Ia diremukkan dan dicabik-cabik sampai ia mungkin berhasil menuju lautan. Setelah hancur menjadi partikel-partikel kecil, ia lalu berakhir dalam tubuh makhluk hidup, dan ini merupakan hal yang berbahaya bagi lingkungan kita. Ada yang tidak benar dalam hal ini. Hanswerner Mackwitz, direktur Institut Riset Alchemia-Nova untuk Fito Kimia Inovatif di Vienna, Austria, menguraikannya seperti ini: “Bila saya membuat sebuah produk plastik yang memiliki waktu paruh 450 tahun, tetapi menggunakannya hanya untuk beberapa minggu atau hari saja, maka ini merupakan suatu masalah.”1

Sebuah kantong belanja yang terbuat dari tepung tanaman. Kantong jenis ini digunakan di banyak pasar swalayan di seluruh Eropa. Kantong ini higienis, tidak berbau, praktis, dan dapat terurai seperti kompos. (Foto: BASF)

Teknologi baru dan produk jadi sekarang dapat mengatasi dilema ini dengan bioplastik. Bahan mentah untuk bioplastik adalah tepung dan minyak yang bersumber dari tanaman seperti jagung dan gula bit. Saat ini, kami mampu membuat rantai molekul berbahan dasar tanaman yang sama dengan rantai molekul bahan sepadan yang berasal dari minyak bumi. Di bawah kondisi tertentu, kebanyakan bahan baku bioplastik dapat membusuk dalam waktu 8 sampai 12 minggu.2

Kenyataan bahwa kita dengan cepat mendekati puncak minyak dunia 3, (titik di mana planet mencapai produksi minyak maksimum dan setelah itu tingkat produksi minyak di Bumi akan menurun sampai titik habis) dan dengan demikian maka minyak bumi yang mahal sebagai bahan dasar plastik dapat digantikan posisinya dengan generasi plastik yang baru ini. Plastik PLA (polylactic acid) dapat menggantikan keberhasilan plastik PET (polyethylenterephthalat), walaupun saat ini harganya 20% lebih mahal.

Pasar untuk plastik tumbuh 5% per tahun. Setiap tahun, lebih dari 200 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia. Di Jerman, 14 juta ton kemasan dari berbagai macam jenis diproduksi setiap tahun; dan plastik menyumbang 40% dari 1,8 juta ton bahan yang berfungsi sebagai kantong atau wadah yang dapat dibuang. Potensi pasar untuk bioplastik di Eropa mencapai 6 juta ton untuk jenis kemasan yang dapat dibuang 4, tetapi pangsa pasar untuk seluruh konsumsi plastik masih kurang dari 1%. European Bioplastics yang mewakili industri bioplastik di Eropa menyatakan bahwa pasar telah meledak di tahun 2006. Seiring dengan diperkenalkannya biokemasan ke seluruh mata rantai pasar swalayan di seluruh Eropa, maka pabrik-pabrik memperkirakan pertumbuhan penggunaan bioplastik akan mencapai 100% di tahun 2007 bila dibandingkan dengan tahun 2006.5

Kemasan bioplastik sudah tersedia di pasar-pasar swalayan di Inggris, Belanda, Italia, dan Austria. Plastik seperti ini menyodorkan tingkat permeabilitas penguapan oksigen dan air yang lebih tinggi daripada plastik tradisional sehingga dapat menjaga kesegaran buah dan sayuran tiga hari lebih lama. Inggris memainkan peranan utama dalam menemukan penerapan praktis untuk bioplastik. Di negara tersebut, selada dan sayuran organik telah dijual dalam wadah plastik yang dibuat dari bahan yang dapat didaur ulang setelah adanya skandal BSE. Semboyannya adalah “Bahan organik dikemas dengan kemasan organik.”

Proyek di Austria Bagian Atas yang dikenal dengan Loop Linz telah beroperasi sejak Tahun Emas 2 (2005). Tujuannya adalah untuk menyediakan kemasan yang dapat bertahan lama kepada pasar dan proyek ini didukung oleh pemerintah daerah serta organisasi lainnya. Loop Linz diprakarsai oleh Institut Riset untuk Inovasi Fitokimia yang disebutkan di atas dan telah menunjukkan bahwa teknologi ini sangat praktis digunakan. Berbagai macam barang di pasar swalayan dijual dalam kemasan bioplastik baru yang terbuat dari tepung tanaman. Produksi jenis kemasan baru ini mereduksi gas buangan CO2 sebesar 50%.6

Perusahaan Pro-tech 7 telah meluncurkan peralatan makan yang mudah terurai secara alami yang terbuat dari bahan-bahan yang dapat diperbarui.8 Para tukang kebun juga dapat membeli kain penutup, yang 100% dapat terurai secara alami, yang berfungsi sebagai jerami dan tersedia baik di toko-toko khusus atau online.9

Baki yang dapat diubah menjadi kompos yang dibuat dari AgroResin® produksi perusahaan Grenidea, yang merupakan serat alam, dan terbuat dari bahan alami seperti serat minyak kelapa (Foto: Grenidea) Pembungkus Walkman dari biopolimer diluncurkan oleh Mitsubishi dan Sony di Jepang. Bahan baru ini juga sedang diselidiki oleh Nokia dan Motorola. (Foto: Kaeb)
Sebuah mantel musim dingin yang 100% terbuat dari jagung. Versace menggunakan serat Ingeo® yang diambil dari PLA NatureWorks. (Foto: GB Studio) Pita perekat yang dapat terurai secara alami. (Foto: Innovia films)

Untuk memperoleh gambaran tentang perkembangannya di masa depan, kita dapat meninjau ke Hanswerner Mackwitz dari Institut Riset untuk Inovasi Fitokimia di Vienna: “Kami berharap agar sistem tanam polikultur berhasil. Dengan mengelola tanaman, tanah, serta organisme yang menguntungkan, maka panennya diharapkan akan semakin melimpah.” Sebagai contoh, di Austria, kami punya banyak biji buah-buahan, tetapi yang digunakan hanya daging buahnya saja, sedangkan bijinya tidak. Hal itu akan berubah. Sebagai contoh, lapisan luar biji yang keras dapat diubah menjadi ampelas yang dapat digunakan untuk memoles logam. Bagian dalam biji yang lunak dapat diubah menjadi minyak berkualitas tinggi atau kosmetik. Ini merupakan “harta karun” yang sampai sekarang dibuang begitu saja. Jadi, kita harus meneliti suatu tanaman sebagai suatu kesatuan. Bagaimana kita bisa memperoleh kegunaan maksimal dari tanaman? Sebagai contoh, sampai sekarang kita hanya menggunakan biji tanaman bunga matahari, atau kayu dan buah dari pohon buah. Tetapi, kandungan apa yang ada dalam kumpulan bunga, buah, biji, akar, batang, dan daunnya? Pengetahuan mengenai biologi tanaman akan mendorong penemuan material yang baru. Tujuannya adalah untuk menghasilkan solusi di daerah tertentu serta memberi pengaruh yang berkelanjutan.”4

Kita berada di awal Zaman Keemasan dan sekaranglah waktunya untuk menyelaraskan diri dengan Bunda Alam, khususnya ditinjau dari sudut sumber daya kita. Teknologi sudah ada dan sedang menanti untuk digunakan oleh manusia secara bijaksana dan bertanggung jawab. Kita memiliki kewajiban terhadap planet ini, dan terhadap masa depan anak-anak kita.

Referensi:

1 http://www.faktor-x.info/cms.php?id=1129

2 http://de.wikipedia.org/wiki/Biokunststoff

3 (titik di mana planet mencapai produksi minyak maksimum dan setelah itu tingkat produksi minyak di Bumi akan menurun sampai titik habis) Catatan Penerjemah http://www.dematerialisierung.de/cms.php?id=1106

4 http://www.faktor-x.info/cms.php?id=1123

5 http://www.european-bioplastics.org/media/files/docs/en-pr/061121_PR_Bioplastics_Boom.pdf

6 http://www.loop-linz.at

7 http://www.pro-tech.info/english/ehome.htm

8 http://www.pro-tech.info/neu/aktuell/index.php?itemid=13

9 http://www.pro-tech.info/neu/aktuell/index.php?itemid=8

BIOPLASTIK......

Material plastik ramah lingkungan dan hemat energi, Bioplastik


Akhir-akhir ini topik tentang Bioplastik banyak saya dapatkan dalam berbagai media cetak dan elektronik. Sebetulnya bidang Bioplastik sendiri bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelumnya sudah dikenal bahkan sudah diaplikasikan dalam beberapa bidang industri.

Bioplastik merupakan jenis plastik atau polimer yang dibuat dari bahan-bahan biotik seperti jagung, singkong ataupun mikrobiota. Berbeda dengan plastik konvensional yang sering kita gunakan, yang umumnya dibuat dari minyak bumi dan gas alam.

Ada dua isu penting yang menurut saya membuat Bioplastik ini “naik daun” ; isu kelestarian lingkungan dan isu kenaikan harga bahan bakar minyak bumi. Bioplastik merupakan jenis plastik yang secara teknis mudah untuk terurai di alam. Bioplastik yang tersusun atas komponen-komponen alam akan lebih mudah didegradasi oleh bakteri-bakteri pengurai karena senyawa penyusunnya sudah “dikenal” oleh bakteri-bakteri pengurai. Berbeda dengan plastik konvensional saat dibuang ke lingkungan plastik jenis ini tidak dapat terurai. Dalam jangka panjang di khawatirkan memberikan efek kerusakan tanah dan air yang kronis. Bahan baku Bioplastik adalah bahan-bahan bio massa seperti biji-biji tanaman, bahan Bioplastik bukan berbasis minyak bumi dan gas alam. Kelebihan ini memberikan insentif Bioplastik terutama saat harga minyak bumi sedang melambung tinggi.

Namun Bioplastik juga memiliki beberapa kekurangan. Saat ini teknologi proses Bioplastik masih lebih mahal dibandingkan biaya produksi plastik konvensional. Isu kekuatan Bioplastik juga merupakan kelemahan plastik jenis ini, Bioplastik dinilai kurang memiliki kekuatan dan daya tahan mekanik dibandingkan plastik konvensional. Untuk meningkatkan kinerja Bioplastik ditambahkan bahan-bahan aditif atau dicampur dengan plastik konevnsional.

Bioplastik terdiri atas beberapa jenis, yang paling luas penggunaan dan produksinya adalah :

Bioplastik berbasis pati
Menguasai sekitar 50% pasar Bioplastik, umumnya digunakan untuk bahan kemasan termoplast, diproduksi dari bahan-bahan alam yang mengandung karbohidrat.

Bioplastik berbasis Asam Polilactat (PLA)

PLA adalah bioplastik bening yang biasanya diprodusi dari bahan jagung atau sumber gula alam, umumnya digunakan sebagai bahan kemasan. PLA dihasilkan dari proses fermentasi senyawa-senyawa gula yang diperoleh dari bahan alam. Hasil fermentasi menghasilkan asam laktat yang dipolimerisasi untuk menghasilkan plastik PLA, siap untuk dibentuk sesuai produk yang diinginkan.

Dari sisi aplikasi manufacturing, NEC dan Fujitsu Jepang merupakan contoh perusahaan yang menunjukkan potensi Bioplastik sebagai laternatif material yang dapat digunakan dalam industri elektronik. Bahkan Fujitsu sudah menghasilkan komputer note book dengan bahan casing dari Bioplastik. Monsanto dan DuPont Chem perusahaan kimia raksasa yang merupakan salah satu pionir pengembangan material Bioplastik.

Salah satu bagian proses pembuatan Bioplastik adalah modifikasi genetik yang melibatkan mikroorganisme. Proses modifikasi genetik ini dianggap merupakan kunci masa depan agar proses pembuatan Bioplastik lebih murah dan lebih sdeikit mengkonsumsi bahan bakar minyak.
Metabolix salah satu perusahaan yang begerak dalam bidang pembuatan Bioplastik mengkalim telah memiliki berbagai paten yang terkait dengan proses rekayasa genetik mikroba untuk dapat membuat Bioplastik lebih ekonomis ( Businessweek 16 Juli 2008 ).

Sampai sejauh mana Bioplastik dapat menjadi penganti plastik konvensional yang lebih ekonomis dan lebih ramah lingkungan, kelihatannya masih membutuhkan waktu lebih lama. Tapi sampai sejauh ini Bioplastik masih merupakan kandidat potensial sebagai material ramah lingkungan, pengganti plastik konvensional.

Tambahan, berikut adalah time line event yang terkait dengan pengembangan Polimer dan Bioplastik (sumber : Businessweek 16 Juli 2008 ).

•Tahun 1939 DuPont memperkenalkan Nilon.
•Tahun 1941 Ilmuwan Denmark menemukan istilah ”rekayasa genetika”
•Tahun 1946 Tupperware melakukan revolusi cara penyimpanan makanan.
•Tahun 1953 James watson dan Francis Crick menemukan model struktur DNA.
•Tahun 1974 Krisis minyak bumi global meggerus laba DuPont, mereka mengalokasikan dana litbang ke Bioteknologi.
•Tahun 1977 Greentech memproduksi protein manusia dalam bakteri.
•Tahun 1989 Mikroorganisme digunakan untuk membersihkan tumpahan minyak.
•Tahun 1992 Metabolix didirikan.
•Tahun 1998 Monsanto Inc menghentikan percobaan Bioplastiknya.
•Tahun 2005 Uni Eropa melarang mainan plastik yang mengandung petrokimia yang beracun.
•Tahun 2006 Penggunaan minyak bumi di AS untuk botol air plastik adalah 17 juta barel.
•Tahun 2007 Metabolix bekerjasama dengan ADM membuat pabrik Bioplastik dengan skala penuh.
•Tahun 2008 harga minyak meningkat menjadi $138 perbarel, AS menekan pembuatan dan penggunaan botol plastik.

http://wagenugraha.wordpress.com/2008/08/11/material-plastik-ramah-lingkungan-dan-hemat-energi-bioplastik/