Tampilkan postingan dengan label bioplastik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bioplastik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2009

E200 Eco, Ponsel Berbahan Jagung dari Samsung

E200 EcoIsu ramah lingkungan masih terus didengung-dengungkan. Banyak produsen elektronika yang kini mulai beralih ke roduk yang lebih ramah lingkungan.

Salah satunya adalah Samsung yang merilis ponsel Eco bioplastik E200 Berbeda dengan plastik biasa yang dibuat dari bahan minyak bumi yang tidak dapat terbarukan, bioplastik dibuat dari bahan-bahan biologis (terbarukan), seperti jagung.

Sebenarnya E200 Eco bukanlah ponsel bioplastik pertama dari Samsung. Juni lalu Samsung sudah merilis W510 dan F268 yang ramah lingkungan, alias terbuat dari bahan plastik berbasis jagung. Akan tetapi W510 dan F268 tidak seluruhnya ramah lingkungan karena desainnya terbuat dari plastik biasa dan bioplastik. Sementara itu seluruh casing E200 Eco terbuat dari bioplastik yang berbasiskan jagung.
.
Selain mulai mengharamkan bahan plastik yang berasal dari minyak bumi, Samsung juga mengklaim diri sebagai memproduksi ponsel dengan menggunakan teknik-teknik yang tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya, seperti plumbum, kadmium dan merkuri. F268 dan E200 Eco berikut charger-nya pun bebas dari bahan-bahan yang bisa membahayakan lingkungan.

Menurut New York Times, selain Samsung, Nokia dan NEC juga mulai menggunakan bioplastik untuk produk-produk consumer-nya. Nokia tahun ini dikabarkan akan meluncurkan 40 model ponsel ramah lingkungan– masing-masing memiliki komponen yang dapat dengan mudah didaur ulang. [Kompas]

Pati Bahan Alternatif Bioplastik Pengganti Glukosa

JAKARTA : Pati atau limbah pati mampu menghasilkan bioplastik yang aman bagi lingkungan dengan harga yang lebih murah dibanding menggunakan bahan glukosa.

'' Bioplastik selama ini dinilai relatif mahal karena menggunakan glukosa yang dihasilkan melalui proses yang juga mahal. Namun, bioplastik yang dihasilkan dari pati atau limbah pati mampu menekan harga jauh lebih murah,'' ujar Ir Siti Syamsiah, PhD, peneliti senior Universitas Gadjah Mada dalam Seminar Riset Unggulan Terpadu Internasional (RUTI) di Jakarta, belum lama ini.

Siti Syamsiah mengatakan, bioplastik dibutuhkan untuk mengurangi penggunaan plastik biasa yang dihasilkan dari BBM. '' Plastik dari BBM, banyak mengandung bahan-bahan karsinogen, sehingga mampu meracuni tubuh. Sementara itu, BBM juga terbatas dan lebih diprioritaskan untuk bidang energi karena sumbernya semakin turun,'' ujarnya.

Di sisi lain, berbagai keperluan masyarakat hampir seluruhnya menggunakan plastik sedangkan limbah yang dihasilkan tidak mampu diuraikan bakteri hingga bertahun-tahun lamanya. Akhirnya, limbah menumpuk, sedangkan penggunaan plastik semakin meningkat. Sementara plastik yang didaur ulang hanya mencapai 10 persen dari limbah yang ada. Sisanya masih berada di lingkungan manusia, dan menimbulkan pencemaran.

Bioplastik hasil penelitiannya, menggunakan limbah pati yang berasal dari ketela. Limbah pati diproses oleh bakteri tertentu sehingga menghasilkan polimer yang disimpan dalam tubuhnya. Melalui proses dengan kondisi tertentu, akan dihasilkan mikroorganisme yang mampu menghasilkan polimer sebanyak-banyaknya. Mikroorganisme tersebut kemudian dipisahkan selnya, untuk menghasilkan polimer (bahan plastik). ''Selain renewable, limbah bioplastik ini juga mampu diurai lingkungan dalam waktu hanya 6 bulan. Bioplastik juga jauh lebih lentur dibanding plastik biasa,'' ujarnya.

Memasuki tahun ketiga penelitiannya, akan direncanakan diproduksi dengan skala semi industri sehingga mampu menghasilkan polimer dalam jumlah cukup banyak. ''Dalam skala besar, mungkin tidak hanya limbah pati, melainkan juga menggunakan pati murni,'' ujarnya. Selain itu, tengah dipertimbangkan mengganti penggunaaan choloform dalam proses pemurnian dengan hidrogen peroksida yang jauh lebih aman dan murah.

Siti mengakui, pengembangkan bioplastik di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. ''Di negara-negara maju, kesadaran bahaya limbah plastik yang berasal dari BBM sudah tinggi sehingga kebutuhan bioplastik cukup tinggi. Selain bisa digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari, juga bisa digunakan untuk kedokteran seperti alat transplantasi, karena aman dalam tubuh,'' ujarnya. (Lea)


http://www.technologyindonesia.com/news.php?page_mode=detail&id=47